Mendalami & Mengenali Jiwa

Memahami, Bukan Memaklumi

Blog EntryIngat Ibu, Lahirlah PuisiApr 21, '08 7:38 AM
for everyone

Puisi ini lahir karena ada teman yang meminta dibuatkan puisi. Alasan sederhana, ia sudah mencari puisi, gak ada puisi dengan tema ibu yang cukup panjang. Padahal, pekan depan sudah harus dibacakan di depan Ibu Mufidah Jusuf Kalla. Jadilah lahir puisi ini.

Bunda, Mentari Itu

 

Bunda, Mentari Itu selalau saja datang tepat waktu

Sementara anakmu ini, selalu saja seperti angin

datang dan pergi  tiada berizin

 

Mentari itu selalu saja berterik sama, yang menganggu hanya awan dan mendung

Sementara anakmu ini, menyerupai mendung. Muka murung, senyum dibendung

Marahku bagai petir, hanya karena engkau tak memberiku sebutir permen

Seharian aku berdiam, meski engkau merayuku

”Ayolah  Nak, Sudah Malam. Dari pagi kamu belum makan....”

Mulutku terkunci. Senyum dan bujukmu, membuatku luluh: setelah aku kantukku menghardik tiba

 

Bunda, Matahari Itu selalu saja berjalan dengan irama yang sama

Sementara anakmu ini, senang berlari. Kadang melompat. Sering terjatuh.

Malam itu, Bunda. Engkau menasehatiku agar tak keluar rumah.

”Sudah malam Nak....”

Telinga tertutup lumpur. Aku berhambur di lembur malam.

Dalam benakku, aku akan beradu padan dalam dendang malam

Bersama teman. Bersama malam.

”Hati-hati Nak....”

Jejakjejak kakikakiku telah melintas terbang

Sebatang onak,  sebatang ilalang menendang selangkang

”Bunda bilang apa?”

Aku menangis

 

Bunda, Matahari Itu selalu saja berkatulistiwa

Sedangkan anakmu ini, sesak dengan garis-garis tak tentu arah

Engkau memintaku ke timur, aku bilang sudah di timur

Engkau mengajakku ke barat, aku enggan

Engkau mengajariku bersujud, aku merukuk

Engkau menolehkanku ke kiri, aku menunduk

 

Bunda, bukan aku tak patuh, tapi aku ingin bisa meniti

”Kamu mesti belajar sabar Nak...”

Sabar, bagiku, seperti Bunda menunggu tungku yang tiada berkayu

Sabar, katamu Bunda, mengolah rasa. Menahan amarah, menahan raga

Ketika aku belajar bersepeda. Terjatuh. Jatuh. Dan jatuh.

Engkau bilang sabar, aku bilang sakit.

Ketika aku belajar berhitung. Salah. Salah. Dan. Salah lagi

Engkau bilang sabar, aku bilang malas.

 

Bunda, Mentari Itu masih seperti ketika aku kecil.

Sinar, arah dan tujuan, tiada berbeda

Sementara aku, kini, tak tahu arah

Sudah tahu aku tentang seorang kekasih, aku tahu belahan hati.

Tapi, mereka itu Bunda, tak seperti mentari itu

Tidak seperti engkau, bunda

 

Bunda, Mentari Itu masih hangat seperti ketika engkau memelukku dulu

Cahayacahaya memendar dari rusuk dan halus kulitmu.

Setelah aku bisa dandan seperti ini, hangat lembut pelukmu masih saja berjaga

Aku merindu. Aku terpaku.

Bunda, Engkaulah  Matahari itu.

 

 

 

 

Pracoyo Wiryoutomo, Suatu Senja Yang Murung

 

 


Blog EntryPerayaan Maulid NabiMar 18, '08 2:20 AM
for everyone

Sudah menjadi kebiasan, setiap bulan Robiul Awal, banyak masjid-masjid atau majelis taklim yang menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi. Beragam cara untuk memperingat hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hanya, kita tidak banyak tahu, bagaimana awal mula peringatan Maulid Nabi ini. Artikel ini akan mengungkap asal muasal Maulid Nabi. Mudah-mudahan ada manfaatnya 

SEJARAH PERAYAAN MAULID 

Diantara perayaan-perayaan bid'ah yang diadakan oleh kebanyakan kaum muslimin adalah perayaan maulid Nabi. Bahkan maulid Nabi ini merupakan induk dari maulid-maulid yang ada seperti maulid para wali, orang-orang sholeh, ulang tahun anak kecil dan orang tua. Maulid-maulid ini adalah perayaan yang telah di kenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Dan perayaan ini bukan hanya ada pada masyarakat kaum muslimin saja tapi sudah di kenal sejak sebelum datangnya Islam. 

Dahulu Raja-Raja Mesir (yang bergelar Fir'aun) dan orang-orang Yunani mengadakan perayaan untuk Tuhan-Tuhan mereka,[1] 1. Al-Adab Al-Yunaani Al-Qodim...oleh DR Ali Abdul Wahid Al-Wafi hal. 131. demikian pula dengan agama-agama mereka yang lain. 

Lalu perayaan-perayaan ini di warisi oleh orang-orang Kristen, di antara perayaan-perayaan yang penting bagi mereka adalah perayaan hari kelahiran Isa al-Masih q, mereka menjadikannya hari raya dan hari libur serta bersenang-senang. Mereka menyalakan lilin-lilin, membuat makanan-makanan khusus serta mengadakan hal-hal yang diharamkan. 

Kemudian sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada agama Islam ini menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai hari raya yang diperingati seperti orang-orang Kristen yang menjadikan hari kelahiran Isa al-Masih sebagai hari raya mereka. Maka orang-orang tersebut menyerupai orang-orang Kristen dalam perayaan dan peringatan maulid Nabi yang diadakan setiap tahun. Dari sinilah asal mula maulid Nabi sebagaimana yang dikatakan oleh as-Sakhawi : "Apabila orang-orang salib/kristen menjadikan hari kelahiran Nabi mereka sebagai hariaya maka orang Islam pun lebih dari itu" (at-Tibr al-Masbuuk Fii Dzaiissuluuk oleh as-Sakhawi) 

Inilah teks penyerupaan dengan orang-orang Kristen. Sesungguhnya perayaan maulid Nabi ini menyerupai orang-orang Kristen, padahal "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu" (HR. Abu Daud, Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul Gholil 5/109.) Dan inilah yang dikabarkan serta yang dikhawatirkan oleh Nabi: "Sesungguhnya kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sedikit demi sedikit sampai seandainya mereka masuk kelubang biawak kalian juga akan mengikuti mereka." (HR. Bukhari dan Muslim) 

B. Siapa Orang Pertama Yang Mengadakan Maulid Nabi Dalam Sejarah Islam? 

Para Ulama yang mengingkari perayaan bid'ah ini telah sepakat, demikian juga dengan orang-orang yang mendukung acara bid'ah ini bahwa Nabi tidak pernah merayakan maulidnya dan juga tidak pernah menganjurkan atau memerintahkan hal ini. Para sahabat beliau, para tabi'in dan tabi'ut tabi'in yang merupakan orang-orang terbaik umat ini serta yang paling bersemangat mengikuti Sunnah Nabi mereka semuanya tidak pernah merayakan maulid. Tiga generasi umat Islam yang telah direkomendasi oleh Nabi berlalu dan tidak di temui pada saat-saat itu perayaan-perayaan maulid ini. Tapi ketika Daulah Fatimiyyah di Mesir berdiri pada akhir abad keempat muncullah perayaan atau peringatan maulid Nabi yang pertama dalam sejarah Islam,2 2. Al-A'yad wa atsaruha alal Muslimin oleh DR. Sulaiman bin Salim As-Suhaimi hal. 285-287. sebagaimana hal ini dikatakan oleh al-Migrizii 3 3. Dia adalah pendukung kelompok Ubeid Al-Qoddah (Ubeidyyin). Dia bernama Ahmad bin Ali bin abdul Qodir bin Muhammad bin Ibrahim al-Husaini al-Ubeidi. Lahir pada tahun 766 H. dalam kitabnya "Al-Mawa'idz wal i'tibar bidzikri al-Khuthoth wal Aatsar" : Dahulu para Kholifah/penguasa Fatimiyyin selalu mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya, diantaranya adalah perayaan tahun baru, Asy-Syura, Maulid Nabi, Maulid Ali bin Abi Thalib a, Maulid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah dll. (Al-Khuthoth 1/490) 

C. Kilas Balik Pelopor Pertama Maulid Nabi 

Pada tahun 317 H muncul di Maroko sebuah kelompok yang di kenal dengan Fatimiyyun (pengaku keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib) yang di pelopori oleh Abu Muhammad Ubeidullah bin Maimun al-Qoddah. Dia adalah seorang Yahudi yang berprofesi sebagai tukang wenter, dia pura-pura masuk ke dalam Islam lalu pergi ke Silmiyah negeri Maroko. Kemudian dia mengaku sebagai keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib dan hal ini pun di percaya dengan mudah oleh orang-orang di Maroko hingga dia memiliki kekuasaan. 

Ibnu Kholkhon4 4. Dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Kholkhon, pengikut madzhab Syafi'i. Dia dilahirkan tahun 608 H. Seorang ahli sastra Arab dan penyair. Beliau meninggal pada tahun 681 H dan disemayamkan di Damaskus (Pent). berkata tentang nasab Ubeidillah bin Maimun al-Qoddah : "Semua Ulama sepakat untuk mengingkari silsilah nasab keturunannya dan mereka semua mengatakan bahwa, semua yang menisbatkan dirinya kepada Fatimiyyun adalah pendusta. Sesungguhnya mereka itu berasal dari Yahudi dari Silmiyah negeri Syam dari keturunan al-Qoddah. Ubeidillah binasa pada tahun 322 H, tapi keturunannya yang bernama al-Mu'iz bisa berkuasa di Mesir dan kekuasan Ubeidiyyun atau Fatimiyyun ini bisa bertahan hingga 2 abad lamanya hingga mereka dibinasakan oleh Sholahuddin al-Ayubi pada tahun 546 H." 5 5. Lihat Firoq Mu'ashiroh oleh DR Gholib Al-'Awajih 2/493-494. 

Perlu diketahui bahwa kelompok Bathiniyah ini memiliki beberapa nama /sekte.

Diantaranya : Nushairiyah, Duruz, Qoromithoh (Ubeidiyyin/Fathimiyyin), Ibahiyah, Isma'iliyah dll.

Perlu diketahui bahwa Maimun al-Qoddah ini adalah pendiri madzhab/aliran Bathiniyyah yang didirikan untuk menghancurkan Islam dari dalam. Aqidah mereka sudah keluar dari Islam bahkan mereka lebih sesat dan lebih berbahaya dari Yahudi dan Nasrani. Tidak ada yang bisa membuktikan akan hal ini kecuali sejarah mereka yang bengis dan kejam terhadap kaum muslimin, diantaranya : pada tahun 317 H ketika mereka telah sangat berkuasa dan bisa sampai ke Ka'bah mereka membunuh jama'ah haji yang sedang berthowaf pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Mereka jadikan Masjid Haram dan Ka'bah lautan darah di bawah kepemimpinan dedengkot mereka Abu Thohir al-Janaabi. 

Abu Thohir ketika pembantaian ini duduk di atas pintu Ka'bah menyaksikan pembunuhan terhadap kaum muslimin/jama'ah haji di Masjid Haram dan di bulan haram/suci. Dia mengatakan : "Akulah Allah, Akulah Allah, Akulah yang menciptakan dan Akulah yang membinasakan" -Mahasuci Allah dari apa yang ia katakan -. Tidak ada seorang yang thowaf dan bergantung di Kiswah Ka'bah melainkan mereka bunuh satu persatu. 

Setelah itu mereka buang jasad-jasad tersebut ke sumur zam-zam. Dan mereka cungkil pintu Ka'bah dan mereka sobek kiswah Ka'bah serta mereka ambil hajar aswad dengan paksa. Pemimpin mereka (Abu Thohir) ketika melakukan hal tersebut dia mengatakan : "Dimana itu burung (Ababil), mana itu batu-batu yang (di buat melempar Abrahah)???" Mereka menyimpan hajar aswad di Mesir selama 22 tahun.6 6. Lihat Bidayah wan Nihayah hal. 160-161 oleh Ibnu Katsir. Ini adalah gambaran singkat kekufuran Bathiniyyah 

D. Bagaimana Pendapat Ulama Tentang Kelompok Bathiniyyah (Fatimiyyun)??? 

Imam Abdul Qohir al-Baghdady (meninggal tahun 429 H) v berkata : "Madzhab Bathiniyyah bukan dari Islam, tapi dia dari kelompok Majusi (penyembah api)7. 7. Al-Farqu bainal Firoq oleh al-Baghdady hal. 22 Beliau juga berkata : "Ketahuilah bahwa bahayanya Bathiniyyah ini terhadap kaum muslimin lebih besar dari pada bahayanya Yahudi, Nasrani, Majusi serta dari semua orang kafir bahkan lebih dahsyat dari bahayanya Dajjal yang akan muncul di akhir zaman." 8 8. Ibid hal.282 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v mengatakan : "Sesungguhnya Bathiniyyah itu orang yang paling fasik dan kafir. Barangsiapa yang mengira bahwa mereka itu orang yang beriman dan bertakwa serta membenarkan silsilah nasab mereka (pengakuan mereka dari keturunan ahli bait/Ali bin Abi Tholib,-pent) maka orang tersebut telah bersaksi tanpa ilmu. Allah berfirman : "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya" (QS. Al-Isra: 36) 

Dan Allah berfirman :

"Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedang dia mengetahui" (QS.Az-Zukhruf : 86) 

Para Ulama telah sepakat bahwa mereka adalah orang-orang zindik dan munafik. Mereka menampakkan ke-Islaman dan menyembunyikan kekufuran. Para Ulama juga sepakat bahwa pengakuan nasab mereka dari silsilah ahlul bait tidaklah benar. Para Ulama juga mengatakan bahwa mereka itu berasal dari keturunan Majusi dan Yahudi. Hal ini sudah tidak asing lagi bagi Ulama dari setiap madzhab baik Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, maupun Hanabilah serta ahli hadits, ahli kalam, pakar nasab dll (Majmu Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 35/120-132) 

Kesimpulan : 

Jadi pelopor bid'ah maulid Nabi adalah kelompok Bathiniyyah 9 9. Ini pendapat yang kuat. Adapun yang mengatakan bahwa maulid tersebut dimulai tahun 604 H oleh Malik Mudoffar Abu Sa'id Kukburi maka ini tidak menafikan hal diatas karena awal maulid tahun 604 H ini di Mushil saja, adapun secara mutlak maka Bathiniyyahlah pencetus pertama Maulid Nabi di dunia, khususnya di Mesir. (Lihat kitab "Al-Bida' Al-Hauliyah" dan "Al-A'yad wa Atsaruha). yang mereka mempunyai cita-cita untuk merubah agama Islam ini dan memasukkan hal-hal yang bukan dari agama agar menjauhkan kaum muslimin dari agama yang benar ini. Menyibukkan manusia dari bid'ah (perayaan-perayaan bid'ah seperti maulid) adalah salah satu jalan yang mudah untuk mematikan Sunnah Nabi dan menjauhkan manusia dari syari'at Allah. 10 10 "Al-Bida' Al-Hauliyah" Hal. 145, oleh Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiry.


Blog EntryMari Sambut Valentine DayJan 31, '08 6:27 AM
for everyone

 

Ada Apa Dengan Valentine's Day


http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatmaklumat&id=109

Pada bulan Februari, kita selalu menyaksikan media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine's Day. Biasanya mereka saling mengucapkan "selamat hari Valentine", berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta karena anggapan saat itu adalah “hari kasih sayang”. Benarkah demikian?

SEJARAH VALENTINE’S DAY

The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day :
“Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers.”

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata.
Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor.
Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul
St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan
St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam
medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of
London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya, yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa?
Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?. Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita remaja putra-putri Islam yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain. Padahal Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (Al Isra' : 36).

HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE

Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).

Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

Abu Waqid Radhiallaahu anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah n berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mem
punyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan :
“Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena: Pertama: ia merupakan hari raya bid‘ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari‘at Islam. Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya.

Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mem
punyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.”
Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi (membedakan diri dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.

Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7)
Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.

Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah:51)
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)

Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.
Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.

Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.

Alhamdulillah, kita mem
punyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.

Semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan:
“Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling mengunjungi karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.”
(Al-Hadits).

 

 


Blog EntryEra Seoharto dalam Kenangan (2) Jan 24, '08 11:25 PM
for everyone

Suatu hari, saat pengumuman calon anggota legislatif. Saya punya kenalan baik anggota DPR Anang Adenansi, bekas wartawan yang menjadi anggota DPR. Karena vokal, namanya tidak lagi masuk menjadi caleg. Bersama Marzuki Darusman dan beberapa nama, termasuk Sekjen Golkar Rachmat Witoelar tidak ada dalam daftar.

Rahmat akhirnya dibuang menjadi duta besar Rusia. Kala itu, salah satu membunkam lawa politik adalah dengan menjadikannya sebagai duta besar. Sedangkan Anang ini, tampanya sangat terpukul. Akhirnya ia setres berat, dan tak lama kemudian ia meninggal. Saya sangat kehilangan kawan yang mudah memberi info.

Nah, dunia politik, saat itu, tidak ada ubahnya dengan dunia entertaiment saat ini. Semua politik yang ada hanyalah gosip. Yang muncul di media, hampir semuanya bertentangan dengan kenyataan. Nah, anehnya, hampir semua gosip politik, justru benar adanya. Tentu tentang sikut menyikut, dan juga intrik politik.

Militer bagaimana? Lebih tertutup lagi. Dulu, seorang staf di Mabes ABRI bisa menelepon seorang wartawan agar tidak memuat berita ini, berita itu. Cukup pakai telepon. Punya kenalan tentara berbintang, jelas satu kebanggaan. Tetapi, sebagai wartawan, rasanya, kok ya tetap gak enak. Nggak ada kebebasan untuk bertanya, semua diatur.

Pernah satu  hari saya meliput penculikan warga asing di daerah Wamena, Irian Jaya (dulu namnya begitu). Yang berusaha membebaskan seorang komadan kopasus. Ceritanya setiap hari waktu itu mau ada breifing setiap perkembangan. Tentu saja dengan berbagai rambu. Ada satu wartawan ANTARA yang  nekad merekam, dan ketahuan. Ia habis dimaki-maki di depan kami.

Ajudan menteri, ajudan polda atau apapun jabatannya, mempunyai kekuasaan juga. Saya pernah diinjak sepatu lars panjang sama ajudan Kapolda, hanya saya nekad melakukan dorsstop (nanya cegat) usai kapolda ikut talkshow di TVRI. Sakit banget.

Nah, jika sekarang semua orang berani mencalonkan diri menjadi presiden, dulu J. Naro punya kebanggaan pernah berani mencalonkan dan dicalonkan partainya PPP untuk menjadi wakil presiden. Sebenarnya ini hanya ulah fraksi ABRI yang tidak setuju, karena Presiden Soeharto ingin memilih Soedarmono. Saking bangganya, di kartu namanya tercantum bukan jabatan, tetapi moment politik tersebut. Former Candidat Vice President RI! Wuaaah luar biasa kan...

Ipik Asmasoebrata, kakeknya Alexandra Asmasobrata pembalap cewek kita, dulu kalau diwawancara luar biasa bersemangat. Ia anggota DPR dari PDI. Satu pertanyaan, jawabnya setengah jam, Setengah kaset habis. Tetapi, setelah itu, ia berpesan. "Hati-hati menulisnya!"

Soal menulis berita, ini juga harus punya coment sens yang tinggi. Sudah harus tahu mana yang boleh dan yang tidak. Itu doktrin diterima di hari pertama masuk sebagai wartawan. Wah, sensor dimulai dari paling bawah. Itu pun belum tentu semuanya lolos.

 


Blog EntrySoeharto Dalam Kenangan Wartawan TuaJan 14, '08 10:15 PM
for everyone

Saya mulai merintis menjadi wartawan tahun 1991. Langsung dijebloskan menjadi wartawan politik. Saya sedikit aktif di kampus, meski tidak berani mengklaim aktifis dalam pengertian politik. Saya hanya aktif kegiatan kampus, dan ikut berbagai diskusi, juga sesekali ikut demo.

Bagaimana Soeharto dengan kekuasaanya bisa mengendalikan kampus? kala itu bukan rahasia lagi. Musuh paling dekat di kampus adalah teman-teman mahasiswa sendiri. Sudah ada mahasiswa yang dibina. Dan, paling kentara adalah para Menwa itu. Mereka galak menyamai tentara.

Di tingkat dosen juga begitu. Banyak dosen yang lebih "Ngorde mbaru" daripada si pemimpinnya. Mahasiswa yang kritis, banyak yang mendapat jeweran. Dan, membuat demo di jaman kuliah dulu (1987-1994 --- heee.. he... mahasiswa yang hampir drop out) bukanlah hal yang mudah.

Zaman demo anti kekerasan, adalah salah satu yang membuat kampus saya di Rawamangun hampir "diledakan". Ada atraksi bakar sepatu tentara, sebagai permorming art. Meski hanya sepatu lars yang dibakar, untuk ukuran itu sudah merupakan satu keberanian luar biasa. bayangkan saat, mulai demo, intel yang datang hampir sama dengan yang ikut demo. Karena itu, ketika salah satu orator berteriak... "Apakah kalian siap mati....?" saya terbengong ketika massa menjawab, "Siap!" Ketika pertanyaan diulang, jawaban pun keluar dengan suara sama. Saya sendirian menjawab."TIDAAAAAAAAK"

Nggak ada yang marah, malah semua tertawa. Dan, intel yang bangga memamerkan pistol dan radio HT cengar-cengir di sebelah saya.

Nah, dengan berbekal pengalaman seperti itu, saya melaju menjadi wartawan politik. Wah, capenya bukan main. Setiap wawancara, hampir semua nara sumber berpesan agar jangan nulis ini, jangan nulis itu bahaya. Yang ini off the record, yang itu tidak usah dimuat. Pusing!

Semua politisi, meski tampak gagah, hanya segelintir yang berani bicara terus terang. Sy punya banyak kenalan di Golkar. Yang paling berani (untuk ukuran saat itu) adalah Marzuki Darusman dan almarhum (aduh namanya lupa) Tapi, keduanya, lantas dibungkam dengan tidak dimasukkan ke dalam daftar Caleg. Rahmat Witoelar, dulu paling sering melihat saya menungguinya bermain tenis dengan almarhum Wahono di Slipi, kantor Golkar. Meski saya sudah berjam-jam, jarang sekali dia mau diwawancara. Kalau ngobrol ya politik, tetapi semua hanya untuk dipendam di dalam hati.

 Yang paling menarik ada juga orang TNI yang berani ngomong. Mayjen Syamsudin (terakhir di Komnas HAM), dan seorang anggota dari polisi (juga sudah meninggal, loagi2 lupa nama). Wah ....(bersambung).


Blog EntryHati-Hati Merayakan Tahun BaruJan 2, '08 1:32 AM
for everyone

Bukan nakut-nakuti, tetapi sekedar berbagi info. Merayakan tahun baru, ternyata bisa membawa petaka. Benarkah?

Hukum Perayaan Menyambut Tahun Baru



Oleh  Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta

 Sumber http://www.almanhaj.or.id/content/1263/slash/0

Pertanyaan.
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta (semacam Komisi Fatwa Arab Saudi) ditanya :
[1]. Pada beberapa hari belakangan ini, kami menyaksikan betapa gencarnya liputan mass-media mass-media (cetak maupun elektronik) dalam rangka menyambut datangnya tahun 2000M dan permulaan Milenium Ketiga seputar kejadian-kejadian dan prosesi-prosesinya. Terlihat bahwa orang-orang kafir dari kalangan yahudi dan nashrani serta selain mereka begitu suka cita menggantungkan harapan-harapan dengan adanya hal itu.

Pertanyaannya, wahai Syaikh yang mulia. Sesungguhnya sebagian mereka yang menisbatkan diri sebagai orang Islam telah juga menunjukkan perhatiannya terhadap hal ini dan menganggapnya sebagai momentum bahagia sehingga mengaitkan hal itu dengan pernikahan, pekerjaan mereka atau memajang/menempelkan pengumuman tentang hal itu di altar-altar perdagangan atau perusahaan mereka dan lain sebagainya yang menimbulkan dampak negatif bagi seorang Muslim.

Dalam hal ini, apakah hukum mengangungkan momentum seperti itu dan menyambutnya serta saling mengucapkan selamat karenanya, baik secara lisan, melalui kartu khusus yang dicetak dan lain sebagainya, menurut syari'at Islam ?
Semoga Allah memberikan ganjaran pahala kepada anda atas amal shalih terhadap Islam dan kaum Muslimin dengan sebaik-baik ganjaran.

[2]. Dalam versi pertanyaan yang lain
: Orang-orang yahudi dan nashrani bersiap-siap untuk menyambut datang tahun baru 2000 Masehi berdasarkan sejarah mereka dalam bentuk yang tidak lazim demi mempromosikan program-program serta keyakinan-keyakinan mereka di seluruh dunia, khususnya di negeri-negeri Islam.

Sebagian kaum Muslimin telah terpengaruh dengan promosi ini sehingga mereka nampak mempersiapkan segala sesuatunya untuk hal itu, dan di antara mereka ada yang mengumumkan potongan harga (diskon) atas barang dagangannnya spesial buat momentum ini. Kiranya, dikhawatirkan kelak hal ini berkembang menjadi aqidah kaum Muslimin di dalam ber-wala' (loyal) terhadap orang-orang non Muslim.

Kami berharap mendapatkan penjelasan anda seputar hukum keikutsertaan kaum Muslimin dalam momentum-momentum kaum kafir, mempromosikan hal itu dan menyambutnya. Demikian juga hukum menon-aktifkan kegiatan kerja oleh sebagian lembaga dari perusahaan berkenaan dengan hal itu.

Apakah melakukan sesuatu dari hal-hal tersebut dan semisalnya atau rela terhadapnya mempengaruhi aqidah seorang Muslim ?

Jawaban.
Sesungguhnya nikmat yang paling besar yang dianugrahkan oleh Allah kepada para hambaNya adalah nikmat Islam dan hidayah kepada jalanNya yang lurus. Di antara rahmatNya pula, Allah Ta'ala mewajibkan kepada para hambaNya, kaum Mukminin, agar memohon hidayahNya di dalam shalat-shalat mereka. Mereka memohon kepadaNya agar mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus dan mantap di atasnya. Dalam hal ini, Allah Ta'ala telah memberikan spesifikasi jalan (shirath) ini sebagai jalan para Nabi, Ash-Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang shalih yang Dia anugrahkan nikmatNya kepada mereka. Jadi, bukan jalan orang-orang yahudi, nashrani dan seluruh orang-orang kafir dan musyrik yang menyimpang darinya.

Bila hal ini sudah diketahui, maka adalah wajib bagi seorang Muslim untuk mengenal kadar nikmat Allah kepadanya sehingga dengan itu, dia mau bersyukur kepadaNya melalui ucapan, perbuatan dan keyakinan. Dalam pada itu, dia juga akan menjaga nikmat ini dan membentenginya serta melakukan sebab-sebab yang dapat menjaga hilangnnya nikmat tersebut.

Bagi orang yang diberikan bashiroh (pemahaman mendalam) terhadap Dienullah di saat kondisi dunia dewasa ini yang diselimuti oleh pencampuradukan antara al-haq dan kebatilan pada kebanyakan orang, dia akan mengetahui dengan jelas upaya keras yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menghapus kebenarannya dan memadamkan cahayanya, upaya menjauhkan kaum Muslimin darinya serta memutuskan kontak mereka dengannya melalui berbagai sarana yang memungkinkan. Belum lagi, upaya memperburuk citra Islam dan melabelkan tuhudan dan kebohongan-kebohongan terhadanya guna menghadang seluruh manusia dari jalan Allah dan dari beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad bin Abdullah. Pembenaran statement ini dibuktikan oleh firman-firman Allah Ta'ala.

"Artinya : Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kami beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran" [Al-Baqarah : 109]

"Artinya : Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya" [Ali-Imran : 69]

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi" [Ali-Imran : 149]

"Artinya : Katakanlah, Hai ahli kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan, "Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan" [Ali Imran : 99]

Dan ayat-ayat lainnya. Akan tetapi meskipun demikian, Allah Ta'ala telah berjanji untuk mejaga dienNya dan kitabNya, dalam firmanNya.

"Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" [Al-Hijr : 9]

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa akan selalu muncul suatu golongan dari umatnya yang berjalan di atas al-haq, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka ataupun menentang mereka hingga terjadi hari Kiamat. Segala puji bagi Allah pujian yang banyak dan kita memohon kepadaNya Yang Maha Dekat dan Mengabulkan Permohonan agar menjadikan kita dan saudara-saudara kita kaum Muslimin termasuk dari golongan tersebut, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Dengan ini, Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta setelah mendengar dan melihat adanya penyambutan yang demikian meriah dan perhatian yang serius dan beberapa golongan orang-orang yahudi dan nashrani serta orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam yang terpengaruh oleh mereka berkenaan dengan telah berakhirnya momentum tahun baru  menurut Kalender Masehi, maka suka tidak suka, Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta wajib memberikan nasehat dan penjelasan kepada seluruh kaum Muslimin tentang hakikat  tahun baru ini serta hukum syariat yang suci ini terhadapnya sehingga kaum Muslimin memahami dengan baik dien mereka dan berhati-hati. Dengan demikian, tidak terjerumus ke dalam kesesatan-kesesatan orang-orang yahudi yang dimurkai dan orang-orang nashrani yang sesat.

Karenanya, kami menyatakan.

Pertama.
Sesungguhnya orang-orang yahudi dan nashrani menggantungkan kejadian-kejadian, keluh-kesah dan harapan-harapan mereka kepada momentum Milenium ini dengan begitu yakin akan terealisasinya hal itu atau paling tidak, hampir demikian karena menurut anggapan mereka hal ini sudah melalui proses kajian dan penelitian. Demikian pula, mereka mengait-ngaitkan sebagian permasalahan aqidah mereka dengan momentum ini dengan anggapan bahwa hal itu berasal dari ajaran kitab-kitab mereka yang sudah dirubah. Jadi, adalah wajib bagi seorang Muslim untuk tidak menoleh kepada hal itu dan tergoda olehnya bahkan semestinya merasa cukup dengan Kitab Rabbnya Ta'ala dan Sunnah Nabinya Shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak memerlukan lagi selain keduanya. Sedangkan teori-teori dan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan keduanya, ia tidak lebih hanya sekedar berupa ilusi belaka.

Kedua.
Momentum ini dan semisalnya tidak luput dari pencampuradukan antara al-haq dan kebatilan, propaganda kepada kekufuran, kesesatan, permisivisme (serba boleh) dan atheisme serta pemunculan sesuatu yang menurut syari'at adalah sesuatu yang mungkar. Di antara hal itu adalah propaganda kepada penyatuan agama-agama (pluralisme), penyamaan Islam dengan aliran-aliran dan sekte-sekte sesat lainnya, penyucian terhadap salib dan penampakan syi'ar-syi'ar kekufuran yang dilakukan oleh orang-orang nashrani dan yahudi serta perbuatan-pebuatan dan ucapan-ucapan semisal itu yang mengandung beberapa hal ; bisa jadi, pernyataan bahwa syari'at nashrani dan yahudi yang sudah diganti dan dihapus tersebut dapat menyampaikan kepada Allah. Bisa jadi pula, berupa anggapan baik terhadap sebagian dari ajaran kedua agama tersebut yang bertentangan dengan dien al-Islam. Atau hal selain itu yang merupakan bentuk kekufuran kepada Allah dan RasulNya, kepada Islam dan ijma' umat ini. Belum lagi, hal itu adalah sebagai salah satu sarana westernisasi kaum Muslimin dari ajaran-ajaran agama mereka.

Ketiga
Banyak sekali dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan atsar-atsar yang shahih yang melarang untuk menyerupai orang-orang kafir di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka.
Di antara hal itu adalah menyerupai mereka dalam perayaan hari-hari besar dan pesta-pesta mereka. Hari besar ('Ied) maknanya (secara terminologis) adalah sebutan bagi sesuatu, termasuk didalamnya setiap hari yang datang kembali dan terulang, yang diagung-agungkan oleh orang-orang kafir. Atau sebutan bagi tempat orang-orang kafir dalam menyelenggarakan perkumpulan keagamaan. Jadi, setiap perbuatan yang mereka ada-adakan di tempat-tempat atau waktu-waktu seperti ini maka itu termasuk hari besar ('Ied) mereka. Karenanya, larangannya bukan hanya terhadap hari-hari besar yang khusus buat mereka saja, akan tetapi setiap waktu dan tempat yang mereka agungkan yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam dien Islam, demikian pula, perbuatan-perbuatan yang mereka ada-adakan di dalamnya juga termasuk ke dalam hal itu. Ditambah lagi dengan hari-hari sebelum dan sesudahnya yang nilai religiusnya bagi mereka sama saja sebagaimana yang disinggung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firmanNya.

"Artinya : Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu" [Al-Furqan : 72]

Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Sekelompok Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Ar-Rabi' bin Anas menafsirkan kata "Az-Zuura" (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.

Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar ('Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, "Dua hari untuk apa ini ?". Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyyah". Lantas beliau bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya : Iedul Adha dan Iedul Fithri" [1]

Demikian pula terdapat hadits yang shahih dari Tsabit bin Adl-Dlahhak Radhiyallahu 'anhu bahwasanya dia berkata, "Seorang laki-laki telah bernadzar pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah.
Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sembari berkata.

"Artinya : Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, 'Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari berhala-berhala Jahiliyyah yang disembah ? Mereka menjawab, 'Tidak'. Beliau bertanya lagi. 'Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari hari-hari besar mereka ?'. Mereka menjawab, 'Tidak'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tepatilah nadzarmu karena tidak perlu menepati nadzar di dalam berbuat maksiat kepada Allah dan di dalam hal yang tidak di
punyai (tidak mampu dilakukan) oleh manusia" [2]

Umar bin Al-Khaththtab Radhiyallahu 'anhu berkata, "Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka" [3]

Dia berkata lagi, "Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka" [4]

Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festifal seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka" [5]

Keempat.
Merayakan hari-hari besar orang-orang kafir juga dilarang karena alasan-alasan yang banyak sekali, di antaranya :

[a]. Menyerupai mereka dalam sebagian hari besar mereka mengandung konsekwensi bergembira dan membuat mereka berlapang dada terhadap kebatilan yang sedang mereka lakukan.

[b]. Menyerupai mereka dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat lahiriah akan mengandung konsekwensi menyerupai mereka pula dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat batiniah yang berupa 'aqidah-aqidah batil melalui cara mencuri-curi dan bertahap lagi tersembunyi.

Dampak negatif yang paling besar dari hal itu adalah menyerupai orang-orang kafir secara lahiriah akan menimbulkan sejenis kecintaan dan kesukaan serta loyalitas secara batin. Mencintai dan loyal terhadap mereka menafikan keimanan sebagaimana firman Allah Ta'ala.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu) ; sebagaimana mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin ; maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim" [Al-Maidah : 51]

Dan firmanNya.

"Artinya : Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih saying dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya" [Al-Mujadillah : 22]

Kelima.
Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan di atas, maka tidak boleh hukumnya seorang Muslim yang beriman kepada Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, mengadakan perayaan-perayaan hari-hari besar yang tidak ada landasannya dalam dien Islam, termasuk diantaranya pesta 'Milenium' rekaan tersebut. Juga, tidak boleh hadir pada acaranya, berpartisipasi dan membantu dalam pelaksanaannya dalam bentuk apapun karena hal itu termasuk dosa dan melampaui aturan-aturan Allah sedangkan Allah sendiri terlah berfirman, "Dan janganlah bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan melampaui batas, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah amat pedih siksaanNya" [Al-Maidah : 2]

Keenam.
Seorang Muslim tidak boleh saling tolong menolong dengan orang-orang kafir dalam bentuk apapun dalam hari-hari besar mereka. Di antara hal itu adalah mempromosikan dan mengumumkan hari-hari besar mereka, termasuk pesta 'milenium' rekaan tersebut. Demikian pula, mengajak pada hal itu dengan sarana apapun baik melalui mass media, memasang jam-jam dan pamflet-pamflet bertuliskan angka, membuat pakaian-pakaian dan plakat-plakat kenangan, mencetak kartu-kartu dan buku-buku tulis sekolah, memberikan diskon khusus pada dagangan dan hadiah-hadiah uang dalam rangka itu, kegiatan-kegiatan olah raga ataupun menyebarkan symbol khusus untuk hal itu.

Ketujuh
Seorang Muslim tidak boleh menganggap hari-hari besar orang-orang kafir, termasuk pesta Milenium rekaan tersebut sebagai momentum-momentum yang membahagiakan atau waktu-waktu yang diberkahi sehingga karenanya meliburkan pekerjaan, menjalin ikatan perkawinan, memulai aktifitas bisnis, membuka proyek-proyek baru dan lain sebagainya. Tidak boleh dia meyakini bahwa hari-hari seperti itu memiliki keistimewaan yang tidak ada pada hari selainnya karena hari-hari tersebut sama saja dengan hari-hari biasa lainnya, dan karena hal ini merupakan keyakinan yang rusak yang tidak dapat merubah hakikat sesuatu bahkan keyakinan seperti ini adalah dosa di atas dosa, kita memohon kepada Allah agar diselamatkan di terbebas dari hal itu.

Kedelapan
Seorang Muslim tidak boleh mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar orang-orang kafir karena hal itu merupakan bentuk kerelaan terhadap kebatilan yang tengah mereka lakukan dan membuat mereka bergembira, karenanya Ibnu Al-Qayyim berkata " Adapun mengucapkan selamat terhadap syi'ar-syi'ar keagamaan orang-orang kafir yang khusus bagi mereka, maka haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat dalam rangka hari-hari besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan 'Semoga hari besar ini diberkahi' atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut. Dalam hal ini, kalaupun pengucapnya lolos dari kekufuran akan tetapi dia tidak akan lolos dari melakukan hal yang diharamkan. Hal ini sama posisinya dengan bilamana dia mengucpkan selamat karena dia (orang kafir) itu sujud terhadap salib. Bahkan, dosa dan kemurkaan terhafap hal itu lebih besar dari sisi Allah ketimbang mengucapkan selamat atas minum khamr, membunuh jiwa yang tidak berdosa, berzina dan semisalnya. Banyak sekali orang yang tidak memiliki sedikitpun kadar dien pada dirinya terjerumus ke dalam hal itu dan dia tidak menyadari jeleknya perbuatannya. Maka, siapa saja yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena suatu maksiat, bid'ah atau kekufuran yang dilakukannya, berarti dia telah mendapatkan kemurkaan dan kemarahan Allah"

Kesembilan.

Adalah suatu kehormatan bagi kaum Muslimin untuk berkomitmen terhadap sejarah hijrah Nabi mereka, Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang disepakati pula orang para sahabat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam secara ijma' dan mereka jadikan kalender tanpa perayaan apapun. Hal itu kemudian diteruskan secara turun temurun oleh kaum Muslimin yang datang setelah mereka, sejak 14 abad yang lalu hingga saat ini. Karenaya seorang Muslim tidak boleh mengalihkan penggunaan kalender Hijriah kepada kelender umat-umat selainnya, seperti kalender Masehi ini ; karena termasuk perbuatan menggantikan yang lebih baik dengan yang lebih jelek. Dari itu kami wasiatkan kepada seluruh saudara-saudara kami, kaum Muslimin, agar bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-sebenar takwa, berbuat ta'at dan menjauhi kemaksiatan terhadapNya serta saling berwasiat dengan hal itu dan sabar atasnya.

Hendaknya setiap Mukmin yang menjadi penasehat bagi dirinya dan antusias terhadap keselamatannya dari murka Allah dan laknatNya di dunia dan Akhirat berusaha keras di dalam merealisasikan ilmu dan iman, menjadikan Allah semata sebagai Pemberi petunjuk, Penolong, Hakim dan Pelindung, karena sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Cukuplah Rabbmu sebagai Pemberi Petunjuk dan Penolong serta berdo'alah selalu dengan do'a Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini.

"Artinya : Ya, Allah, Rabb Jibril, Mikail, Israfil. Pencipta lelangit dan bumi. Yang Maha Mengetahui hal yang ghaib dan nyata. Engkau memutuskan hal yang diperselisihkan di antara para hambaMu, berilah petunjuk kepadaku terhadap kebenaran yang diperselisihkan dengan idzinMu, sesungguhnya Engkau menunjuki orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus" [6]

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad Wa Alihi Wa Shahbihi

[Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta, No. 21049, tgl. 12-08-1420]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Dikelaurkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210. Sunan Abu Daud, kitab Ash-Shalah No. 1134, Sunan An-Nasa'i, Kitab Shalah Al-Iedain, No. 1556 dengan sanad yang shahih.
[2]. Dikeluarkan oleh Abu Daud, Kitab Al-Aiman Wa An-Nadzar, No. 3313 denan sanad shahih.
[3]. Dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqy No. 18640
[4]. Ibid No. 18641
[5]. 'Aun Al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512
[6]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya, Kitab Shalah Al-Musafirin, No. 770

 


Blog EntryBerhaji Dengan Sabar dan SenyumSep 19, '07 1:18 AM
for everyone

Berhaji Dengan Sabar dan Senyum

Dua tahun lalu, saya diberi kesempatan oleh Alloh, untuk melakukan rukun Islam ke-5 bersama istri saya. Selama dalam perjalanan, saya membuat cacatan kecil, tentang apa saja yang menurut saya menarik. Dasar berpikirnya wartawan, jadi apa yang kemudian ditulis adalah serba-serba naik haji. Bukan pengalaman batin, seperti kebanyakan orang menulis.

Saya berencana menjadikannya buku. Saya sudah edit beberapa bagian. Dan, masih banyak lagi yang belum. Target saya menjelang keberangkatan haji usai Lebaran nanti, buku itu bisa terbit. Meski hanya terbatas. Sebagian ceritanya saya share di sini, secara serial. Mudah-mudahan ada yang membaca. Ya, Modal Sabar dan Senyum!

Peterpan Ikut Naik Haji

Bagi keluarga muda, pergi haji cukup berat. Ini soal batin. Sejak hendak meninggalkan rumah, sudah melintang hadangan tangisan keluarga. Wah, bila yang menangis orang tua kita, itu tidak perlu membuat hati galau.

 

Tapi, bila yang menangis anak kita? Orang tua mana yang tenang mendengarkannya. Anak kami, Afina Insani, kala itu baru berumur 8 tahun. Dan, dia anak tunggal. Sangat lengket dengan si Ibu. Juga sangat sangat sama si ayah.

 

Jauh-jauh hari, kami merayu, memberi pengertian, agar ia tenang saat kami pergi beribadah. Namanya juga anak. Wah, ya tetap membuat hati miris. Kami sudah siap menitipkan kepada Kakek-Neneknya. Mereka akan boyongan ke rumah kami. Kakak sepupunya juga sudah siap menemani menginap di rumah saat libur.

 

Pokoknya, semua sudah kami siapkan. Nah, saat kami akan beranjak pergi, ia sengajat tidak masuk sekolah. Di mobil, saat keberangkatan, matanya sudah berkaca-kaca. Tidak keluar kata-kata yang biasanya ia seperti burung nuri. Tangan kiri dipegang si ibu, tangan kanan digenggaman si ayah.

 

Saya menduga, saat kami berpisah pastilah suara tangisnya akan pecah. Saat di mobil, justru si ayah yang terus ingin memeluk si anak. Ketika perpisahan harus terjadi, kami menaiki bus rombongan yang akan mengantar ke Asrama Haji Bekasi, kami menciumi, dan memeluknya. Ia tak menangis, meski hanya tersenyum kecut.

 

Apa rahasianya? Ternya si ibu memberinya kejutan. Ia membelikan kaset Peterpan, yang ingin ia miliki sudah lama. Dia terpaku dengan kaset, tetapi ia sedih harus berpisah dengan orang tuanya. Hemmm. Dan, tangis itu meledak justru ketika ia menyambut kami di Asrama Haji, 40 hari berikutnya!

 

Ujian Sabar Baru Dimulai

Kata orang, pergi haji akan penuh dengan ujian kesabaran. Saya hampir tak percaya. Tetapi, kok ya benar adanya. Saat baru ke luar dari pintu rumah, saat akan kumpul di KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji), dan ujian kesabaran benar-benar di depan mata mulai terasa di Asrama Haji.

 

Kami, yang tidak menginap, hanya diminta datang lebih awal. Berangkat ke Bandara pukul 19.00, tetapi sudah harus kumpul sejak habis Dzuhur! Luar biasa. Udara panas, hiruk pikuk, dan yang bikin kesal itu, petugas dari Departemen Agama itu seenaknya saja memberi perintah ini, perintah itu. Mulai petunjuk menggunakan tas paspor. Pokoknya, seperti anak kecil yang akan tamasya-lah. Jangan ini, jangan itu. Harus begini, harus begitu.

 

Yang paling menyebalkan kami harus disuruh tiga kali antri. Walah kenapa nggak dibuat sekali saja. Ada antrian mengambil gelang, antrian mengambil pengembalian uang saku dalam bentuk Real. Ada antrian cek kesehatan. Pokoknya nggak profesional dan nggak efektif. Tapi, apa mau dikata? Kan ibadah haji harus sabar. Sing sabar mas…

 

Karena bosan dengan suasana di ruangan, saya dan istri, iseng membeli makanan. Perut lapar dan belum mendapat jatah. Kok ya ndilalah, saya membeli makanan kok rasanya berada di daerah tak bertuan! Harganya nggak tanggung-tanggung! Sepiring gado-gado Rp 15.000!

 


Blog EntrySelamat Ulang TahunAug 28, '07 1:46 AM
for everyone

Hampir setia hari ada teman di kantor yang berulang tahun. Hampir setiap bulan, anggota kelurga besar ada yang ulang tahun. Bahkan, kadang juga bos kita Maka, adat dan kebasaan kita lantas memberi ucapaan selamat, dan juga malah kadang ikut berbahagia dengan merayakan: makan-makan.

Sepertinya tidak ada yang salah. Bahkan, kalau sudah menjadi pimpinan, rasanya merayakan ulang tahun menjadi keharusan. Ini karena anak buah memberi ucapan selamat, teman-teman pun begitu pula. Tiga tahun lalu, anak dan istri, selalu mencium saya ketika agi baru menjelang. Bahkan, kadang juga dibelikan kado. Saya juga begitu. Tidak ada yang salah? Sampai pada satu ketika, saya ketemu dengan satu buku yang salah satunya emersoalkan tradisi ini. Kebetulan ketemu artikel ini, mudah-mudahan ada pemahaman tetang ulang tahun ini.


HUKUM MERAYAKAN ULANG TAHUN


Oleh
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin

http://www.almanhaj.or.id/content/1584/slash/0



Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya ?

Jawaban.
Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

“Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.

Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.

Pertama.
Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.

Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”

Kedua.
Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”

Tambahan hadis ini: Artinya : Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta, sampai-sampai, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biaivak pun kalian mengikuti mereka." Kami katakan, "Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nashrani?" Beliau berkata, "Siapa lagi." [3]

Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan ‘ Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk –semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh” [Al-A’raf : 182-183]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan” [Ali-Imran : 178]

[Fatawa Manarul Islam 1/43]

[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]


Blog EntryNasip Seorang Gaptek-MenAug 14, '07 1:56 AM
for everyone

Beginilah Nasib seorang gaptek. Sudah punya handphone yang lumayan canggih, masih memperlakukan layaknya hp jangkrik. Mestinya semua data di-back up. ini malah dibuang. Bermula dari kekesalan sy, karena setiap mengirim sms lambatnya bukan main. Bisa 2,5 menit baru terkirim.

Semua upaya sudah dilakukan. Atas saran Mas Tomy (Astro) saya coba beberapa cara. Termasuk mengganti memory card ke 1 GB. Selanjutnya menghapus file-file di telepon (terutama foto2) dan juga satu cerita pendek. Hasilnya tetap saja itu hp malas mengirim surat.

Karena sudah menyerah, datanglah ke Nokia Customer Care. Maunya mendapat pelayanan yang baik. Ternyata solusi yang diberikan cuma satu: up grade software. Oke. Ganti, dan bayar Rp 250.000.

Saya sudah dipesan, data-data akan hilang. Saya sudah yakin, seingatku semua data juga sudah dicopy ke memory card. jadi, mestinya, tidak masalah. Ternyata salah. Proses pengcopyan ini yang nggak benar. Mestinya mark all, tetapi tidak. Akhirnya yang kecopy hanya satu name card.

Maka, ketika proses upgrade selesai, dan mencoba hp. Badan semua terasa lemassss. Semua data itu hilang. Sekitar 500-an entry nomer telepon teman, kolega, kenalan lama, juga nara sumber penting. Semua hilang. Seandainya menangis bisa mengembalikan data itu, akan saya lakukan. Ada juga puisi-puisi yang mestinya tinggal meng-postkan di blog ini.

Saya hanya bisa mengelus dada. Sabar. Saya pun meminta Teguh (Trans7) untuk mengirim banyak sekali nomor teman-teman kantor dan juga teman lama di FORUM. Tentu via bluetooth. Tetap saja, nggak cukup. Begitu juga teman-teman yang membalas via sms email permintaan dari saya (via millis tentu). Masih saja banyak teman yang nggak terlihat.

Sedih. Sedih.  Sedih


Blog EntryKisah Di Balik Mit0sAug 8, '07 7:41 AM
for everyone

REPUBLIKA, Selasa, 13 Maret 2007

Asal Usul Mencari Kebenaran di Balik Sebuah Mitos

Ada kalanya, pemirsa diajak ke laboratorium untuk membuktikan kebenaran mitos tersebut.

Percayakah kalau buah nanas bisa menyebabkan keguguran, jika dikonsumsi oleh ibu yang sedang hamil muda? Atau, benarkah mitos bahwa kulit bayi akan menjadi putih dan bersih apabila si ibu pada waktu hamil rajin meminum air kelapa hijau? Dan, benarkah juga buah terong tidak baik dikonsumsi oleh para pria, karena dapat menghilangkan kejantanan?

Sederet pertanyaan berbau mitos di atas mungkin sudah cukup akrab bagi sebagian masyarakat di negeri ini. Tapi sekali lagi, benarkah semua mitos-mitos itu?

Berangkat untuk mencari kebenaran di balik beragam mitos itulah kemudian lahir sebuah program di layar kaca Trans7 bernama Asal Usul. Tayangan berdurasi setengah jam itu menyapa para pemirsa dari Senin hingga Jumat. Kali perdana tontonan ini hadir menjumpai pemirsa pada 5 Februari lalu.

Pracoyo Wiryoutomo, produser eksekutif Asal Usul, mengatakan program ini tidak hanya disajian untuk memberi hiburan pemirsa pada siang hari, pukul 10.00 WIB. ''Tetapi juga diharapkan bisa memberi inspirasi dan pengetahuan kepada masyarakat,'' katanya.

Dijelaskannya, dalam proses pembuktian beragam mitos tadi, pihaknya menggandeng sejumlah peneliti, pakar, maupun dokter. Biasanya, untuk mengetahui kebenaran mitos, Pracoyo tak sungkan mengajak pemirsanya menyaksikan pembuktian secara ilmiah dari dalam laboratorium. ''Inilah yang ingin kita lakukan bahwa laboratorium bukanlah tempat sakral, dan tidak bersifat tabu, jika dihadirkan ke layar kaca,'' papar Pracoyo.

Pemandu program
Untuk menjembatani proses ilmiah agar bisa diterima secara mudah oleh orang awam, maka dalam program Asal Usul ini Pracoyo memberikan tugas kepada reporternya menjadi pemandu program. Reporter yang ditugaskan sebagai pemandu dalam program ini, kata dia, ada empat orang. ''Mereka hadir secara bergantian dalam setiap episode.''

Para reporter tadi, lanjutnya, bertugas mengorek informasi seputar mitos kepada para peneliti. Bahkan, dalam salah satu episode tentang terong, pemandu program ini tidak sungkan untuk berkunjung ke salah seorang dokter spesialis. ''Dari sanalah kita bangun sebuah dialog yang bersifat alamiah,'' ujarnya.

Salah seorang reporter Asal Usul dalam perbincangan dengan Republika membagikan sekelumit seputar proses penggalian informasi kepada narasumbernya. ''Biasanya setelah ada data ilmiah dari laboratorium, kita langsung meminta keterangan kepada penilitinya,'' kata sang reporter.

Dia pun mengatakan bahwa dari sederet mitos yang berkembang di negeri ini, tidak semuanya mengandung kebenaran mutlak. Ia menyebutkan di antara mitos yang mengandung kebenaran itu seperti buah nanas yang kurang baik bagi ibu yang sedang hamil muda. ''Soalnya dari hasil pengujian laboratorium, nanas itu mengandung enzim Bromelin,'' ungkapnya. ''Enzim tersebut kurang baik buat ibu hamil muda, karena dapat memicu perkembangan daging di dalam tubuh menjadi lembek.''

Begitu juga dengan mitos tentang air kelapa hijau. ''Air kelapa hijau memang bagus,'' kata sang reporter. Dia menjelaskan, di antara kandungan kelapa itu terdapat minyak kelapa murni (virgin coconut oil alias VCO). Dalam VCO, kata dia, terdapat kandungan zat yang mirip dengan air susu. ''Zat tersebut ternyata bagus untuk pertumbuhan cabang bayi.''

Secara umum, Pracoyo menjelaskan Asal Usul berisi liputan tentang mitos, pamali, kepercayaan atau pantangan yang berkembang di masyarakat. Selain itu lagi, pemirsa juga akan diajak untuk menemui orang-orang kreatif dan inspiratif. ''Atau juga kita akan mengajak dari dekat pernak pernik yang masih ada kaitannya dengan mitos yang sedang diangkat dalam tema,'' katanya.


Blog EntryKetika Musim Nikah TibaAug 3, '07 8:50 AM
for everyone

Bulan-bulan ini, sampai Ramadhan nanti, sepertinya undangan tiada henti. Sepekan kemarin saya menerima dua undangan. Satu di Jakarta, satu di Lombok. Awal September nanti, saya mendapat (setidaknya) tiga undangan teman-teman yang sudah bertekad hati untuk mengakhiri masa lajang.

Dulu, saya agak malas mendatangi undangan. Apalagi kalau tingkat "kenal" sebatas teman biasa. Bukan teman yang lekat, sahabat atau teman special lain. Kadang terlintas dipikiran, buat apa mendatangi undangan. Tapi, pengalaman, saat menikah, kita menjadi tahu bagaimana tingkat "pertemanan" kita dengan orang lain itu. Teman yang baik datang, yang menanggap kita orang biasa-biasa saja, pasti tidak datang. Kata orang Bbijak, teman sejati, justru akan tampak saat kita dirundung duka atau lara. Dialah yang datang. Memberi senyum, mengulurkan tangan. Menjabat kita. Kita pun terhibur.

Meski begitu, tak ada salahnya kita mendalami persoalan ini dari sisi agama. Bagaimanakah agama menganjurkan untuk mendatangi undangan? Ternyata, kalau kita tidak punya alasan kuat untuk tidak hadir, tak ada hukum yang bisa meringankan. Kecuali harus menghadiri undangan itu. Mudah-mudah kita bisa menguatkan hati dan tekad untuk berjalan, menghadiri undangan.

Hukum Memenuhi Undangan

9 July, 2007

http://muslim.or.id/2007/07/09/hukum-memenuhi-undangan/ 

 

M Abduh Tuasikal (Alumni Ma’had Ilmi)
Muraja’ah: Ust Zaid, Lc. (Pengajar Ma’had Jamilurrahman)

Para pembaca sekalian yang semoga dirahmati Allah Ta’ala. Setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Setiap muslim memiliki hak bagi saudaranya yang lain. Hak sesama muslim ini sangatlah banyak sebagaimana terdapat dalam banyak hadits. Di antaranya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Hak muslim pada muslim yang lain ada enam yaitu: (1) Apabila engkau bertemu, berilah salam padanya, (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat padanya, (4) Apabila dia bersin lalu mengucapkan ’alhamdulillah’, doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’, pen), (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

Memenuhi Undangan Seorang Muslim

Di antara hak yang harus ditunaikan seorang muslim pada muslim yang lain dalam hadits ini adalah memenuhi undangan. Hukum memenuhi undangan seorang muslim adalah disyariatkan, tanpa adanya perselisihan di antara para ulama. Namun hal ini dengan syarat: (1) Orang yang mengundang adalah seorang muslim, (2) Orang yang mengundang tidak terang-terangan dalam berbuat maksiat, dan (3) Tidak terdapat maksiat yang tidak mampu dihilangkan dalam acara yang akan dilangsungkan.

Akan tetapi, mayoritas ulama berpendapat bahwa undangan yang wajib dipenuhi hanya undangan walimah (resepsi pernikahan). Sedangkan undangan selain walimah hanya dianjurkan (tidak wajib) untuk dipenuhi. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Ibnu Utsaimin dan Taudhihul Ahkam, Syaikh Ali Basam).

Hukum Memenuhi Undangan Walimah Adalah Wajib

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ”Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk menghadiri walimatul ’ursy (resepsi pernikahan, pen), penuhilah.” (HR. Muslim) dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya, ”Barang siapa yang tidak menghadiri undangan walimah/pernikahan, sungguh dia telah durhaka pada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim). Dari dua hadits ini terlihat jelas bahwasanya hukum memenuhi undangan walimah adalah wajib, jika memenuhi 3 syarat di atas. Undangan tersebut juga wajib dipenuhi jika undangan tersebut adalah undangan pertama¬ dan pada hari pertama (jika walimahnya lebih dari sehari, yang wajib dipenuhi hanya hari pertama saja, pen). (Lihat Taudhihul Ahkam, Syaikh Ali Basam dan Al Qoulul Mufid ’ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu Utsaimin).

Memenuhi Undangan Orang  Agama Lain

Mungkin ada yang bertanya, bolehkah kita memenuhi undangan orang kafir (selain muslim, pen)? Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah berkata, ”Apabila yang mengundang adalah orang kafir, tidak boleh (haram) memenuhi undangan tersebut, bahkan tidak disyariatkan, kecuali apabila terdapat maslahat (manfaat) di dalamnya. Seperti untuk mengajaknya masuk Islam atau dalam rangka perdamaian. Hal seperti ini tidaklah mengapa karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memenuhi undangan orang Yahudi yang mengundangnya di Madinah.” (Syarh Riyadhus Sholihin).

Memenuhi Undangan Orang Fasik

Apabila yang mengundang adalah seorang muslim, namun dia terang-terangan dalam berbuat maksiat (fasik) seperti mencukur jenggot, merokok di muka umum atau melakukan bentuk kemaksiatan yang lain, maka memenuhi undangan dari orang semacam ini tidaklah wajib.

Akan tetapi, jika dalam memenuhi undangan tersebut terdapat maslahat (manfaat), maka boleh menghadirinya. Sedangkan apabila dalam memenuhi undangan tersebut tidak terdapat maslahat, maka perlu dipertimbangkan lagi, yaitu bisa memilih untuk datang atau tidak. Jika dia melihat dirinya mampu untuk tidak menghadiri undangan tersebut kemudian ketidakhadirannya ini dapat menimbulkan maslahat yaitu orang lain malah ikut tidak memenuhi undangan si pengundang yang fasik ini sehingga si pengundang kemudian bertaubat dari maksiat yang dia lakukan, maka tidak mengapa (tidak wajib) dia tidak memenuhi undangan dari orang semacam ini. Semoga Allah memberi petunjuk padanya. (Syarh Riyadhus Sholihin).

Bagaimana Jika dalam Acara Walimah terdapat Kemungkaran ?

Apabila seseorang mampu mengubah kemungkaran, dia wajib memenuhi undangan tersebut -yaitu undangan walimatul ’ursy yang undangannya wajib dipenuhi-, dengan dua tinjauan yaitu (1) Untuk menghilangkan kemungkaran dan (2) Untuk memenuhi undangan saudaranya.

Adapun jika dalam acara tersebut terdapat kemungkaran dan tidak mampu diubah seperti di dalamnya terdapat ajakan untuk merokok, atau terdapat alat musik (padahal telah jelas bahwa alat musik adalah haram, pen), maka tidak wajib (haram) untuk memenuhi undangan semacam ini.

Jika kemungkaran dalam acara tersebut di waktu lain, maka seseorang boleh datang pada saat tidak ada kemungkaran di dalamnya. Begitu juga jika yang mengundang adalah kerabat dekat, jika tidak menghadirinya dapat memutuskan silaturahmi, maka boleh memenuhi undangan pada waktu yang tidak terdapat kemungkaran di dalamnya. Lebih baik lagi jika memberikan persyaratan kepada kerabat yang mengundang. Misalnya dengan mengatakan: ”Jika di dalamnya terdapat ajakan untuk berbuat maksiat, saya tidak akan memenuhi undangan tersebut.” Namun, jika masih terdapat kemaksiatan, tidak wajib menghadirinya. Karena menghadiri acara semacam ini, walaupun ada rasa benci dalam hati, dapat dikatakan serupa dengan pelaku maksiat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. An Nisa’: 140) (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin).

Bagaimana Jika Sifat Undangan Walimah Adalah Umum ?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah berkata, “Apabila kartu undangan walimah ditujukan untuk semua orang, tidak di-ta’yin (ditentukan) siapa yang diundang, maka mungkin dapat dikatakan ini adalah undangan jafala (undangan yang bersifat umum), tidak wajib memenuhi undangan seperti ini. Namun jika dia yakin bahwa dialah yang diundang, maka memenuhi undangan ini menjadi wajib karena ini sama saja dengan undangan dari lisan si pengundang.” (Lihat Al Qoulul Mufid ’ala Kitabit Tauhid).

Jika Tidak Mampu Menghadiri Undangan

Apabila orang yang diundang dalam keadaan sakit atau sedang merawat orang sakit, atau sibuk menjaga harta, atau cuaca pada hari tersebut sangat panas atau sangat dingin, atau hujan pada hari itu sangat deras sehingga membasahi pakaian, atau dia adalah orang yang terikat kontrak kerja dan tidak diizinkan oleh majikannya, maka dalam keadaan-keadaan seperti ini tidaklah wajib untuk memenuhi undangan. (Lihat Taudhihul Ahkam).

Saudaraku, jika seseorang mengundangmu ke rumahnya untuk makan bersama atau engkau diajak untuk membantunya dalam suatu perkara, maka penuhilah. Karena hal ini akan membuat senang orang yang mengundang dan akan lebih mempererat ukhuwah dan kasih sayang sesama muslim. Ya Allah, kami meminta pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang diterima. Amin Yaa Mujibad Da’awaat.

 


Blog EntryPoligami The SeriesJul 24, '07 1:01 PM
for everyone

Apakah Poligami Itu Dianjurkan ?

Jumat, 8 Desember 2006 00:36:54 WIB

POLIGAMI


Oleh
Ummu Salamah As-Salafiyyah



Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : … Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja….” [An-Nisaa : 3]

Pertanyaan : Apakah poligami itu dianjurkan ?

Jawaban
Syaikh Mustafa Al-Adawi Hafizhahullah Ta’ala mengatakan : “Letak dianjurkannya poligami itu adalah jika seorang laki-laki mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

“Artinya : …Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja….”

Dan jika dirinya merasa aman dari fitnah dari isteri-isterinya dan tidak akan menyia-nyiakan hak Allah atas dirinya karena mereka, serta bisa menyibukkan dalam beribadah kepada Rabb karena mereka. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka” [At-Taghabun : 14]

Selain itu, dia melihat adanya kemampuan untuk menjaga kesucian mereka serta memberikan perlindungan kepada mereka sehingga dia tidak akan memberikan kerusakan kepada mereka. Sebab, Allah tidak menyukai kerusakan.

Dan sesuai dengan kemampuannya dia harus memberikan nafkah kepada mereka. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya” [An-Nuur : 33] [1]

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah pernah ditanya tentang hukum poligami, apakah sunnah ?

Dia menjawab, “Tidak sunnah, tetapi boleh”.

MEMBERI SETIAP ISTERI SEBUAH RUMAH SEBAGAI UPAYA MENGIKUTI NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan hendaklah mereka tetap tinggal di rumahj mereka” [Al-Ahzab : 33]

Dia juga berfirman.

“Artinya : Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu)” [Al-Ahzaab : 34]

Dia juga berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan” [Al-Ahzab : 53]

Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa sunnah Nabi itu ada beberapa buah dan bukan hanya satu saja.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta ketika sakit yang mengantar beliau wafat, “Di mana aku besok? Di mana aku besok?” Yang beliau maksudkan adalah hari (giliran) Aisyah. Lalu isteri-isteri beliau mengizinkan beliau untuk menetap di mana beliau kehendaki, sehingga beliau tinggal di rumah Aisyah sampai beliau wafat di sisinya. Aisyah berkata, “Maka beliau meninggal pada hari yang menjadi giliranku di rumahku. Lalu Allah mencabut nyawa beliau sementara kepala beliau bersandar di dadaku, sementara keringat beliau bercampur dengan keringatku” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi pernah berada di rumah salah seorang isterinya, lalu salah seorang Ummahatul Mukminin (isteri-isteri Nabi) mengirimkan satu piring berisi makanan. Kemudian wanita yang rumahnya ditempati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul tangan pelayan sehingga piring itu jatuh dan pecah. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring dan kemudian mengumpulkan kembali makanan tersebut ke dalamnya seraya berkata, ‘Ibumu telah cemburu’. Selanjutnya, pelayan itu ditahan sehingga dia diberi piring dari isteri yang rumahnya ditempati Nabi. Lalu pelayan itu menyerahkan piring yang baik kepada isteri yang dipecahkan piringnya. Sementara Nabi tetap menahan piring yang pecah itu di rumah kejadian peristiwa piring pecah” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

Ibnu Syaibah rahimahullah di dalam kitab Al-Mushannaf (IV/388) berkata, “Abad bin Al-Awam mengabarkan kepadaku dari Ghalib, dia berkata, “Aku pernah tanyakan kepada Hasan –atau ditanya- tentang seorang laki-laki yang mempunyai dua isteri di dalam satu rumah? Dia menjawab, Mereka (para Sahabat) memakruhkan al-wajs, yakni dia menggauli salah seorang dari keduanya sementara yang lainnya melihat”. Atsar ini shahih.

Di dalam kitab Al-Mughni (VII/26), Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Seorang laki-laki tidak boleh menghimpun dua isterinya di dalam satu tempat tinggal tanpa keridhaan keduanya, baik itu masih kecil maupun sudah tua, karena antara keduanya terdapat mudharat, dimana antara kedunaya ada permusuhan dan kecemburuan. Sementara penyatuan keduanya dapat menyulut pertengkaran dan peperangan. Dan masing-masing dari keduanya akan mendengar gerakannya jika dia menggauli isterinya yang lain atau bisa juga dia akan melihat hal tersebut. Dan jika keduanya sama-sama setuju dengan hal tersebut, maka hal itu dibolehkan, karena hak itu milik keduanya, sehingga keduanya diberi toleran untuk meninggalkannya.

Demikian juga jika keduanya rela suami mereka tidur di antara keduanya dalam satu selimut. Dan jika keduanya rela untuk suami mereka mencampuri salah seorang dari mereka dengan disaksikan oleh lainnya, maka yang demikian itu tidak diperbolehkan, karena hal tersebut mengandung kehinaan, kenistaan, dan jatuhnya kewibawaan sehingga hal tersebut tidak diperbolehkan meskipun keduanya membolehkan”.

Imam Al-Qurthubi (XIV/217) berkata, “Tidak diperkenankan mengumpulkan para isteri di satu rumah, kecuali jika mereka rela”.

Di dalam kitab Al-Majmu Syarhul Muhadzdzab dikatakan (XVI/415), “Jika seorang suami memiliki beberapa isteri yang tidak ditempatkan di dalam satu rumah, kecuali dengan kerelaan mereka atau salah seorang dari mereka, karena hal itu dapat menimbulkan pertengkaran di antara mereka. Dan tidak diperbolehkan baginya untuk mencampuri salah seorang dari mereka ketika yang lainnya tengah berada bersamanya karena yang demikiian itu adalah adab yang tidak baik lagi merusak hubungan”

Catatan.
Diantara bentuk kelaziman rumah yang mandiri bagi setiap isteri adalah tidak ada campur tangan dalam hal makanan di antara isteri-isteri. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh hadits terdahulu, “Lalu salah seorang Ummahatul Mukminin mengirimkan sat