Mendalami & Mengenali Jiwa

Blog EntryEra Seoharto dalam Kenangan (2) Jan 24, '08 11:25 PM
for everyone

Suatu hari, saat pengumuman calon anggota legislatif. Saya punya kenalan baik anggota DPR Anang Adenansi, bekas wartawan yang menjadi anggota DPR. Karena vokal, namanya tidak lagi masuk menjadi caleg. Bersama Marzuki Darusman dan beberapa nama, termasuk Sekjen Golkar Rachmat Witoelar tidak ada dalam daftar.

Rahmat akhirnya dibuang menjadi duta besar Rusia. Kala itu, salah satu membunkam lawa politik adalah dengan menjadikannya sebagai duta besar. Sedangkan Anang ini, tampanya sangat terpukul. Akhirnya ia setres berat, dan tak lama kemudian ia meninggal. Saya sangat kehilangan kawan yang mudah memberi info.

Nah, dunia politik, saat itu, tidak ada ubahnya dengan dunia entertaiment saat ini. Semua politik yang ada hanyalah gosip. Yang muncul di media, hampir semuanya bertentangan dengan kenyataan. Nah, anehnya, hampir semua gosip politik, justru benar adanya. Tentu tentang sikut menyikut, dan juga intrik politik.

Militer bagaimana? Lebih tertutup lagi. Dulu, seorang staf di Mabes ABRI bisa menelepon seorang wartawan agar tidak memuat berita ini, berita itu. Cukup pakai telepon. Punya kenalan tentara berbintang, jelas satu kebanggaan. Tetapi, sebagai wartawan, rasanya, kok ya tetap gak enak. Nggak ada kebebasan untuk bertanya, semua diatur.

Pernah satu  hari saya meliput penculikan warga asing di daerah Wamena, Irian Jaya (dulu namnya begitu). Yang berusaha membebaskan seorang komadan kopasus. Ceritanya setiap hari waktu itu mau ada breifing setiap perkembangan. Tentu saja dengan berbagai rambu. Ada satu wartawan ANTARA yang  nekad merekam, dan ketahuan. Ia habis dimaki-maki di depan kami.

Ajudan menteri, ajudan polda atau apapun jabatannya, mempunyai kekuasaan juga. Saya pernah diinjak sepatu lars panjang sama ajudan Kapolda, hanya saya nekad melakukan dorsstop (nanya cegat) usai kapolda ikut talkshow di TVRI. Sakit banget.

Nah, jika sekarang semua orang berani mencalonkan diri menjadi presiden, dulu J. Naro punya kebanggaan pernah berani mencalonkan dan dicalonkan partainya PPP untuk menjadi wakil presiden. Sebenarnya ini hanya ulah fraksi ABRI yang tidak setuju, karena Presiden Soeharto ingin memilih Soedarmono. Saking bangganya, di kartu namanya tercantum bukan jabatan, tetapi moment politik tersebut. Former Candidat Vice President RI! Wuaaah luar biasa kan...

Ipik Asmasoebrata, kakeknya Alexandra Asmasobrata pembalap cewek kita, dulu kalau diwawancara luar biasa bersemangat. Ia anggota DPR dari PDI. Satu pertanyaan, jawabnya setengah jam, Setengah kaset habis. Tetapi, setelah itu, ia berpesan. "Hati-hati menulisnya!"

Soal menulis berita, ini juga harus punya coment sens yang tinggi. Sudah harus tahu mana yang boleh dan yang tidak. Itu doktrin diterima di hari pertama masuk sebagai wartawan. Wah, sensor dimulai dari paling bawah. Itu pun belum tentu semuanya lolos.

 


teguhsupriyadi wrote on Jan 25
Bagaimaan dg politisi sekarang, Mas? Berlaku sama seperti dahulu atau sebaliknya, selalu menggandeng wartawan untuk kepentingan politiknya?
heruwardhana wrote on Jan 25
Hidup Reformasi,...!!

sstt,..eh reformasi masih hidup gak ya,..??
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help