Mendalami & Mengenali Jiwa

Blog EntryIngat Ibu, Lahirlah PuisiApr 21, '08 7:38 AM
for everyone

Puisi ini lahir karena ada teman yang meminta dibuatkan puisi. Alasan sederhana, ia sudah mencari puisi, gak ada puisi dengan tema ibu yang cukup panjang. Padahal, pekan depan sudah harus dibacakan di depan Ibu Mufidah Jusuf Kalla. Jadilah lahir puisi ini.

Bunda, Mentari Itu

 

Bunda, Mentari Itu selalau saja datang tepat waktu

Sementara anakmu ini, selalu saja seperti angin

datang dan pergi  tiada berizin

 

Mentari itu selalu saja berterik sama, yang menganggu hanya awan dan mendung

Sementara anakmu ini, menyerupai mendung. Muka murung, senyum dibendung

Marahku bagai petir, hanya karena engkau tak memberiku sebutir permen

Seharian aku berdiam, meski engkau merayuku

”Ayolah  Nak, Sudah Malam. Dari pagi kamu belum makan....”

Mulutku terkunci. Senyum dan bujukmu, membuatku luluh: setelah aku kantukku menghardik tiba

 

Bunda, Matahari Itu selalu saja berjalan dengan irama yang sama

Sementara anakmu ini, senang berlari. Kadang melompat. Sering terjatuh.

Malam itu, Bunda. Engkau menasehatiku agar tak keluar rumah.

”Sudah malam Nak....”

Telinga tertutup lumpur. Aku berhambur di lembur malam.

Dalam benakku, aku akan beradu padan dalam dendang malam

Bersama teman. Bersama malam.

”Hati-hati Nak....”

Jejakjejak kakikakiku telah melintas terbang

Sebatang onak,  sebatang ilalang menendang selangkang

”Bunda bilang apa?”

Aku menangis

 

Bunda, Matahari Itu selalu saja berkatulistiwa

Sedangkan anakmu ini, sesak dengan garis-garis tak tentu arah

Engkau memintaku ke timur, aku bilang sudah di timur

Engkau mengajakku ke barat, aku enggan

Engkau mengajariku bersujud, aku merukuk

Engkau menolehkanku ke kiri, aku menunduk

 

Bunda, bukan aku tak patuh, tapi aku ingin bisa meniti

”Kamu mesti belajar sabar Nak...”

Sabar, bagiku, seperti Bunda menunggu tungku yang tiada berkayu

Sabar, katamu Bunda, mengolah rasa. Menahan amarah, menahan raga

Ketika aku belajar bersepeda. Terjatuh. Jatuh. Dan jatuh.

Engkau bilang sabar, aku bilang sakit.

Ketika aku belajar berhitung. Salah. Salah. Dan. Salah lagi

Engkau bilang sabar, aku bilang malas.

 

Bunda, Mentari Itu masih seperti ketika aku kecil.

Sinar, arah dan tujuan, tiada berbeda

Sementara aku, kini, tak tahu arah

Sudah tahu aku tentang seorang kekasih, aku tahu belahan hati.

Tapi, mereka itu Bunda, tak seperti mentari itu

Tidak seperti engkau, bunda

 

Bunda, Mentari Itu masih hangat seperti ketika engkau memelukku dulu

Cahayacahaya memendar dari rusuk dan halus kulitmu.

Setelah aku bisa dandan seperti ini, hangat lembut pelukmu masih saja berjaga

Aku merindu. Aku terpaku.

Bunda, Engkaulah  Matahari itu.

 

 

 

 

Pracoyo Wiryoutomo, Suatu Senja Yang Murung

 

 


dhankari wrote on Apr 22
Di suatu senja yang murung, tercipta puisi.

Cool.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help