Puisi ini lahir karena ada teman yang meminta dibuatkan puisi. Alasan sederhana, ia sudah mencari puisi, gak ada puisi dengan tema ibu yang cukup panjang. Padahal, pekan depan sudah harus dibacakan di depan Ibu Mufidah Jusuf Kalla. Jadilah lahir puisi ini.
Bunda, Mentari Itu
Bunda, Mentari Itu selalau saja datang tepat waktu
Sementara anakmu ini, selalu saja seperti angin
datang dan pergi tiada berizin
Mentari itu selalu saja berterik sama, yang menganggu hanya awan dan mendung
Sementara anakmu ini, menyerupai mendung. Muka murung, senyum dibendung
Marahku bagai petir, hanya karena engkau tak memberiku sebutir permen
Seharian aku berdiam, meski engkau merayuku
”Ayolah Nak, Sudah Malam. Dari pagi kamu belum makan....”
Mulutku terkunci. Senyum dan bujukmu, membuatku luluh: setelah aku kantukku menghardik tiba
Bunda, Matahari Itu selalu saja berjalan dengan irama yang sama
Sementara anakmu ini, senang berlari. Kadang melompat. Sering terjatuh.
Malam itu, Bunda. Engkau menasehatiku agar tak keluar rumah.
”Sudah malam Nak....”
Telinga tertutup lumpur. Aku berhambur di lembur malam.
Dalam benakku, aku akan beradu padan dalam dendang malam
Bersama teman. Bersama malam.
”Hati-hati Nak....”
Jejakjejak kakikakiku telah melintas terbang
Sebatang onak, sebatang ilalang menendang selangkang
”Bunda bilang apa?”
Aku menangis
Bunda, Matahari Itu selalu saja berkatulistiwa
Sedangkan anakmu ini, sesak dengan garis-garis tak tentu arah
Engkau memintaku ke timur, aku bilang sudah di timur
Engkau mengajakku ke barat, aku enggan
Engkau mengajariku bersujud, aku merukuk
Engkau menolehkanku ke kiri, aku menunduk
Bunda, bukan aku tak patuh, tapi aku ingin bisa meniti
”Kamu mesti belajar sabar Nak...”
Sabar, bagiku, seperti Bunda menunggu tungku yang tiada berkayu
Sabar, katamu Bunda, mengolah rasa. Menahan amarah, menahan raga
Ketika aku belajar bersepeda. Terjatuh. Jatuh. Dan jatuh.
Engkau bilang sabar, aku bilang sakit.
Ketika aku belajar berhitung. Salah. Salah. Dan. Salah lagi
Engkau bilang sabar, aku bilang malas.
Bunda, Mentari Itu masih seperti ketika aku kecil.
Sinar, arah dan tujuan, tiada berbeda
Sementara aku, kini, tak tahu arah
Sudah tahu aku tentang seorang kekasih, aku tahu belahan hati.
Tapi, mereka itu Bunda, tak seperti mentari itu
Tidak seperti engkau, bunda
Bunda, Mentari Itu masih hangat seperti ketika engkau memelukku dulu
Cahayacahaya memendar dari rusuk dan halus kulitmu.
Setelah aku bisa dandan seperti ini, hangat lembut pelukmu masih saja berjaga
Aku merindu. Aku terpaku.
Bunda, Engkaulah Matahari itu.
Pracoyo Wiryoutomo, Suatu Senja Yang Murung