Semenjak bulan tersapu kabut kuning, weweangian dalam tubuhmu meruap Janjimu, hari ini adalah terakhir kali menjual badanmu.
Tujuh belas tahun sudah kamu merelakan pundak-pundak kecantikanmu untuk semua lebah yang hinggap dan pergi. “Diriku sudah berkalung rapalan mantera tentang kesucian jiwa. Tak mungkin belok. Tak mungkin mundur.”
Tapi, tak ada yang percaya. Sudah ribuan hasta engkau rangkai kata Semua tak berbuah. Sebatas putik bunga, lalu bagai tersirap angin: hilang semua
Ringkikan kuda telah membawamu ke lembah beracun itu. Di sana engkau mengigau tentang ketenangan jiwa. Gerimis turun di pipimu
Sampai di sini kamu menyesal. Toh kamu tertawa: ternyata lebahku orang yang sangat akrab: suami
Puisi Kekalahan andaikan hidup ini adalah permainan maka aku berhenti bermain. Apa kita sadar, semua permainan melahirkan banyak kekalahan?
Puisi Ketakutan Aku sudah berbulan-bulan menyulam kata, Tetapi seperti ada benang yang koyak. Kucoba ganti dengan yang baru. Sama saja.. Lembar demi lembar benang yang coba kupungut dari kapas putih-Mu Tak juga cukup.
Kamus katakataku juga sudah kahabisan entri Hanya sepenggal frasa yang berhasil tersulam: --- seluruhnya adalah ----
hari ini mencoba membuat pintalan baru, tapi yang tercipta hanya ketakutan bahwa hidup ini hanya seteguk air.
Kunang-Kunang Itu Semua orang menoleh ke arah cahaya itu. Seekor kunangkunang Berenang di udara malam. Buliran cahayanya menyisakan rongga kuning terang
Semua orang berlari mengejar kunangkunang Malam tak mengindahkan kejaran-kejaran itu Seribu kunang-kunang pun tak akan membuat malam berhenti memberikan sunyi dan sepi
kunangkunang itu terus menari dan berlari dalam sepi, dalam mimpi orangorang yang berlari itu juga hanya memetik sepi