BERITA KEMATIAN
Cerpen Pracoyo Wiryoutomo
Cerpen Pracoyo Wiryoutomo
CINDER Boelan, duduk tercenung. Matanya nanar, kosong. Jari-
jemarinya yang sejak tadi membolak-balik koran Soeara Oemoem
terbitan terakhir Agustus 1933, mendadak berhenti. Ia melompat dari
duduknya, mengambil sebuah pena dan menulis besar-besar di koran
itu. Ia melingkari satu artikel yang ia tulis sendiri. Ia ambil
gunting. Dan, kres-kres, koran itu sudah terbelah.
jemarinya yang sejak tadi membolak-balik koran Soeara Oemoem
terbitan terakhir Agustus 1933, mendadak berhenti. Ia melompat dari
duduknya, mengambil sebuah pena dan menulis besar-besar di koran
itu. Ia melingkari satu artikel yang ia tulis sendiri. Ia ambil
gunting. Dan, kres-kres, koran itu sudah terbelah.
"Keputusan bodoh," katanya sambil membanting tubuhnya di kursi
kayu di ujung ruang itu. Ia kembali membaca ulang artikel berjudul
"Djika Solidair", pelan perlahan. Kali ini suaranya keras-keras.
Seolah ia ingin membentak pada keadaan, kepada nasib, dan kepada
sesuatu yang tak ia sukai. Suaranya parau.
Ya, akibat tulisan itulah Soeara Oemoem dibredel Pemerintah
Hindia Belanda. Inilah untuk pertama kalinya, pemerintah kolonial
membredel pers pribumi. Hatinya menganga, tak bisa menerima putusan
itu. Perasaannya mencakar keadaan. Mulutnya tak berkata apa-apa,
tangannya tak berbuat apa-apa, tapi mata hatinya terus bertutur
tentang burung di langit. Tentang negeri yang merdeka.
Cindar Boelan, kembali tertunduk. Perasaannya berkecamuk sedih
campur bangga. Haru campur kelu. Ia merasa inilah betapa sulitnya
berjuang dengan kata-kata, berjuang dengan pena yang konon lebih
ditakuti Napoleon dibanding seribu bedil.
campur bangga. Haru campur kelu. Ia merasa inilah betapa sulitnya
berjuang dengan kata-kata, berjuang dengan pena yang konon lebih
ditakuti Napoleon dibanding seribu bedil.
Ia merasa hanya menyajikan fakta, dan merasa harus menyuarakan
kebenaran. Ia mewartakan kejadian yang dilihat sendiri, ia tulis
dengan nurani dan ia konfirmasikan kepada pejabat Hindia Belanda.
Meski ia merasa belum layak sebagai pejuang, namun hati kecilnya
mengatakan: perjuangan tidak cukup dilakukan dengan hasutan dan
propaganda. Ia memilih menjadi ksatria.
kebenaran. Ia mewartakan kejadian yang dilihat sendiri, ia tulis
dengan nurani dan ia konfirmasikan kepada pejabat Hindia Belanda.
Meski ia merasa belum layak sebagai pejuang, namun hati kecilnya
mengatakan: perjuangan tidak cukup dilakukan dengan hasutan dan
propaganda. Ia memilih menjadi ksatria.
Itulah sebabnya, meski ia mempunyai sederet fakta yang ia
rasakan sebagai kebenaran, dan sebagai sebuah berita mempunyai
magnitute yang tinggi. Cindar Boelan merasa harus mendapatkan
keterangan resmi dari orang-orang pendulum Gubernur Jenderal De
Jonge.
rasakan sebagai kebenaran, dan sebagai sebuah berita mempunyai
magnitute yang tinggi. Cindar Boelan merasa harus mendapatkan
keterangan resmi dari orang-orang pendulum Gubernur Jenderal De
Jonge.
Bayangannya mengalir ke samudera lepas. Ingatannya tertancap
pada sebuah kapal yang tengah berlayar di Selat Malaka. Ia terbayang
saat mengikuti misi pelayaran sebuah kapal Belanda, De Zeven
Provincien namanya. Sebuah kapal perang yang berukuran sedang, yang
ia yakin bila bertemu dengan kapal Inggris atau Portugis akan luluh
lantak. Tapi bukan itu yang membuat ia tertarik.
pada sebuah kapal yang tengah berlayar di Selat Malaka. Ia terbayang
saat mengikuti misi pelayaran sebuah kapal Belanda, De Zeven
Provincien namanya. Sebuah kapal perang yang berukuran sedang, yang
ia yakin bila bertemu dengan kapal Inggris atau Portugis akan luluh
lantak. Tapi bukan itu yang membuat ia tertarik.
Perhatiannya tertuju pada Nakhoda Kapal, Carpenter Alting, yang
sudah cukup lama ia kenal. Alting keturunan bangsa Boer yang
ditindas Kerajaan Belanda di Afrika sana. Cindar Boelan berkenalan
dengan Alting di Tanjung Perak saat ia hendak mencari-cari tulisan
tentang pelayaran Hindia Belanda, dan suhu politik di dataran Eropa
yang mulai ada tanda-tanda bergejolak. Biasanya, pelaut dari Belanda
membawa koran-koran terbitan daratan Eropa. Dari sanalah ia biasanya
menyajikan dalam koran Soeara Oemoem.
sudah cukup lama ia kenal. Alting keturunan bangsa Boer yang
ditindas Kerajaan Belanda di Afrika sana. Cindar Boelan berkenalan
dengan Alting di Tanjung Perak saat ia hendak mencari-cari tulisan
tentang pelayaran Hindia Belanda, dan suhu politik di dataran Eropa
yang mulai ada tanda-tanda bergejolak. Biasanya, pelaut dari Belanda
membawa koran-koran terbitan daratan Eropa. Dari sanalah ia biasanya
menyajikan dalam koran Soeara Oemoem.
Semenjak kapal melepas sauh di Tanjung Perak, Cindar Boelan
melihat Alting tidak ceria. Tawanya hilang. Humornya mati, dan malah
gampang tersinggung.
melihat Alting tidak ceria. Tawanya hilang. Humornya mati, dan malah
gampang tersinggung.
"Terserah Anda, Tuan Cindar. Saya mau duduk di sini," kata
Alting saat Cindar hendak mengajaknya makan malam.
Nafsu makannya menjadi pupus, Cindar beringsut mendekati
sahabatnya. Lama tak ada cakap. Cindar baru membuka pembicaraan saat
Alting menawarkan sigaret. Tak diduga, Alting menariknya ke arah
geladak kapal.
Alting saat Cindar hendak mengajaknya makan malam.
Nafsu makannya menjadi pupus, Cindar beringsut mendekati
sahabatnya. Lama tak ada cakap. Cindar baru membuka pembicaraan saat
Alting menawarkan sigaret. Tak diduga, Alting menariknya ke arah
geladak kapal.
Di sanalah, Alting bercerita tentang kondisi kapal yang sudah
aus. Peralatan navigasinya tak lagi bekerja sempurna.
"Asal Tuan tahu saja. Kapal ini dibeli dari Angkatan Laut
Inggris. Anda tahu Tuan, Inggris Raya memang jagoan di laut, tapi
kapal ini sudah pernah kena meriam Jerman di pertempuran lepas
pantai barat Chile atau Battle of Coronel," katanya.
aus. Peralatan navigasinya tak lagi bekerja sempurna.
"Asal Tuan tahu saja. Kapal ini dibeli dari Angkatan Laut
Inggris. Anda tahu Tuan, Inggris Raya memang jagoan di laut, tapi
kapal ini sudah pernah kena meriam Jerman di pertempuran lepas
pantai barat Chile atau Battle of Coronel," katanya.
"Tapi kapal ini masih kuat melaju, Tuan," kata Cindar.
"Anda tidak lihat di buritan kapal ini, ada sebidak bagian yang
gampang pecah."
gampang pecah."
"Apa awak kapal tahu?"
"Inilah yang membuat sahaya khawatir, Tuan. Mereka memaksa
kapal harus kembali ke Tanjung Perak. Mereka tak mau meneruskan
pelayaran ke Rotterdam. Tapi saya tak bisa menolak perintah, Tuan,"
ucapan Alting sedikit emosi.
kapal harus kembali ke Tanjung Perak. Mereka tak mau meneruskan
pelayaran ke Rotterdam. Tapi saya tak bisa menolak perintah, Tuan,"
ucapan Alting sedikit emosi.
Cindar Boelan kemudian tahu. Kapal itu terpaksa dibeli Armada
Belanda sebagai konsesi atas bantuan Inggris saat Jerman menyerbu
daratan negeri Kincir Angin itu. Pihak Angkatan Laut sebenarnya
enggan memakai kapal bekas, tapi pihak Kerajaan tak ambil peduli.
Dan, kapal bekas ini diserahkan ke Minister van Kolonien (Menteri
Urusan Daerah Jajahan) untuk Hindia Belanda.
Belanda sebagai konsesi atas bantuan Inggris saat Jerman menyerbu
daratan negeri Kincir Angin itu. Pihak Angkatan Laut sebenarnya
enggan memakai kapal bekas, tapi pihak Kerajaan tak ambil peduli.
Dan, kapal bekas ini diserahkan ke Minister van Kolonien (Menteri
Urusan Daerah Jajahan) untuk Hindia Belanda.
Cindar tak begitu saja percaya. Esok paginya, ia berusaha
mengecek kebenaran cerita Alting. Ia tanyai mualim, ia ajak bicara
kelasi dan awak kapal lain. Cindar hampir tak percaya terhadap apa
yang akan terjadi di kapal itu.
mengecek kebenaran cerita Alting. Ia tanyai mualim, ia ajak bicara
kelasi dan awak kapal lain. Cindar hampir tak percaya terhadap apa
yang akan terjadi di kapal itu.
Malam pekat tiba. Dan, De Zeven Provincien terkena badai. Kapal
oleng. Awal kapal riuh rendah. Di ruang navigasi, Cindar hanya bisa
menggigil. Nakhoda, mualim, kapten kapal berusaha mencegah awak
kapal yang mendobrak pintu. Mereka berontak. Mereka kalap. Mereka
hancurkan semuanya!
oleng. Awal kapal riuh rendah. Di ruang navigasi, Cindar hanya bisa
menggigil. Nakhoda, mualim, kapten kapal berusaha mencegah awak
kapal yang mendobrak pintu. Mereka berontak. Mereka kalap. Mereka
hancurkan semuanya!
"Cak Cindar!"
Cindar Boelan terbangun dari lamunan. Teriakan yang keras itu
membuat ia tergeragap. "Oh, Gusti," ucapnya.
membuat ia tergeragap. "Oh, Gusti," ucapnya.
Ternyata yang datang, seorang kawan wartawan. Ia membawa surat
dari Dokter Tjipto dan Dokter Soetomo. Isinya surat simpati. Dari
mereka inilah ia merasa punya harga diri. Tapi, itu tak cukup
membuatnya bangkit dari patah hati.
dari Dokter Tjipto dan Dokter Soetomo. Isinya surat simpati. Dari
mereka inilah ia merasa punya harga diri. Tapi, itu tak cukup
membuatnya bangkit dari patah hati.
Cindar merasa, dirinya merasa menjadi lebih jelek dari maling
kampungan di Gang Genteng. Ia merasa lebih hina dari pelacur di Gang
Dolly. Seorang maling pun diadili sebelum dijatuhi hukuman, tapi
dirinya dihukum tanpa bisa membela diri.
kampungan di Gang Genteng. Ia merasa lebih hina dari pelacur di Gang
Dolly. Seorang maling pun diadili sebelum dijatuhi hukuman, tapi
dirinya dihukum tanpa bisa membela diri.
Ia hanya bertanya dalam hati. Pendahulunya, Mas Marco yang
menulis keras di Pantjaran Warta dan menyebarkan "Boekoe Selebaran
yang Pertama", diadili dan dihukum dua tahun. Begitu pula Parada
Harahap di koran Sinar Merdeka. Tapi korannya boleh terbit. Kenapa
dirinya tidak?
menulis keras di Pantjaran Warta dan menyebarkan "Boekoe Selebaran
yang Pertama", diadili dan dihukum dua tahun. Begitu pula Parada
Harahap di koran Sinar Merdeka. Tapi korannya boleh terbit. Kenapa
dirinya tidak?
Cindar tahu, dirinya menjadi korban Ordonansi Pembredelan
(Persbreidel-ordonnantie). Koran Soeara Oemoem memang hanya skorsing
selama delapan hari, tapi itu lebih dari penginjak-injakan harkat
martabat dirinya. Ordonansi itu hasil studi Belanda untuk menghadapi
serangan pers pribumi yang diambil dari Indian Pers Act untuk
menggantikan Peraturan tentang Barang Cetak. Gubernur Jenderal De
Jonge terpaksa mengambil tindakan itu laporan desakan Gubernur Djawa
Timoer G. Koeneman dan referensi Algemene Secretarie. Putusan itu
juga dilandasi desakan Badan Eksekutif (Gouverneur Generaal) yang
memiliki kuasa untuk melarang dan mengizinkan terbitnya media massa.
(Persbreidel-ordonnantie). Koran Soeara Oemoem memang hanya skorsing
selama delapan hari, tapi itu lebih dari penginjak-injakan harkat
martabat dirinya. Ordonansi itu hasil studi Belanda untuk menghadapi
serangan pers pribumi yang diambil dari Indian Pers Act untuk
menggantikan Peraturan tentang Barang Cetak. Gubernur Jenderal De
Jonge terpaksa mengambil tindakan itu laporan desakan Gubernur Djawa
Timoer G. Koeneman dan referensi Algemene Secretarie. Putusan itu
juga dilandasi desakan Badan Eksekutif (Gouverneur Generaal) yang
memiliki kuasa untuk melarang dan mengizinkan terbitnya media massa.
***
CINDER Boelan bergegas memasuki kantor Asisten Residen. Baru
saja ia lolos dari pintu gerbang, seorang serdadu mencekalnya. Ia
minta surat keterangan dan menyeretnya ke pos jaga. Cindar
diinterogasi, cukup lama.
CINDER Boelan bergegas memasuki kantor Asisten Residen. Baru
saja ia lolos dari pintu gerbang, seorang serdadu mencekalnya. Ia
minta surat keterangan dan menyeretnya ke pos jaga. Cindar
diinterogasi, cukup lama.
Mujur, seorang komisaris polisi yang dikenalnya datang. Ia pun
mendapat perlakuan sedikit sopan. Ia diharuskan mengisi daftar tamu.
Ia dipersilakan menunggu di ruang tamu. Tunggu punya tunggu,
keterangan yang ia dapat: Tuan Asisten Residen tak ada di tempat.
Ia tak putus asa. Setiap hari ia mendatangi kantor itu, setiap
hari pula ia berurusan dengan penjaga keamanan. Hari ketujuh, ia
terima berita gembira. Asisten Residen bersedia menerimanya. Inilah
kesempatan yang ia tunggu-tunggu untuk menyuarakan pandangannya
tentang pemberangusan terhadap korannya.
mendapat perlakuan sedikit sopan. Ia diharuskan mengisi daftar tamu.
Ia dipersilakan menunggu di ruang tamu. Tunggu punya tunggu,
keterangan yang ia dapat: Tuan Asisten Residen tak ada di tempat.
Ia tak putus asa. Setiap hari ia mendatangi kantor itu, setiap
hari pula ia berurusan dengan penjaga keamanan. Hari ketujuh, ia
terima berita gembira. Asisten Residen bersedia menerimanya. Inilah
kesempatan yang ia tunggu-tunggu untuk menyuarakan pandangannya
tentang pemberangusan terhadap korannya.
Seorang serdadu mengawalnya dari belakang. Kantor Gubermen itu
tampak lengang. Hanya kicauan burung-burung gereja yang terdengar.
Sandal selopnya yang ia seret membuat suasana menjadi miris.
tampak lengang. Hanya kicauan burung-burung gereja yang terdengar.
Sandal selopnya yang ia seret membuat suasana menjadi miris.
"Silakan Tuan Cindar," seorang berkumis tebal, berpantalon dan
memegang ceruti, mempersilakan.
memegang ceruti, mempersilakan.
Cindar duduk di depan meja pembesar itu. Giginya gemertak,
jantungnya berdetak lebih cepat.
jantungnya berdetak lebih cepat.
"Tuan sudah tahu apa kesalahan Tuan? Pemerintah tidak suka atas
tulisan Tuan. Tuan telah melakukan kesalahan substansial, menyiarkan
pemberontakan di kapal perang. Cukup jelas?" pembesar itu menghardik.
tulisan Tuan. Tuan telah melakukan kesalahan substansial, menyiarkan
pemberontakan di kapal perang. Cukup jelas?" pembesar itu menghardik.
Cindar mendongak. Baru saja ia ingin angkat bicara, Tuan
pembesar itu sudah berdiri dan mempersilakan Cindar keluar. Seorang
serdadu menggamitkan dan menyeret Cindar ke luar. Cindar melonglong.
Cindar terus dipiting, diseret ke jalan besar. Teriakan dan
umpatan Cindar tak mampu menembus tembok gedung yang tinggi itu.
pembesar itu sudah berdiri dan mempersilakan Cindar keluar. Seorang
serdadu menggamitkan dan menyeret Cindar ke luar. Cindar melonglong.
Cindar terus dipiting, diseret ke jalan besar. Teriakan dan
umpatan Cindar tak mampu menembus tembok gedung yang tinggi itu.
Cindar terus berteriak sepanjang jalan. Ia lontarkan yel-yel
kemerdekaan. Ia kumandangkan slogan-slogan kebebasan. Tapi tak ada
yang peduli. Orang-orang memandang dengan tatapan aneh. Dianggap
gila, barangkali.
kemerdekaan. Ia kumandangkan slogan-slogan kebebasan. Tapi tak ada
yang peduli. Orang-orang memandang dengan tatapan aneh. Dianggap
gila, barangkali.
Alun-alun di depan matanya. Ia berlari. Orang-orang berkerumun
mendengar teriakan Cindar. Toko-toko tutup, warung-warung kukutan.
Mereka mengitari Cindar. Ia berdiri di atas potongan kayu. "Mulutku
bisa kau sumbat. Mataku bisa kau butakan. Tapi kebenaran tak bisa
kau binasakan."
mendengar teriakan Cindar. Toko-toko tutup, warung-warung kukutan.
Mereka mengitari Cindar. Ia berdiri di atas potongan kayu. "Mulutku
bisa kau sumbat. Mataku bisa kau butakan. Tapi kebenaran tak bisa
kau binasakan."
Pidato Cindar menyala-nyala. Yel-yel merdeka gegap gempita. Di
bawah pohon beringin, seorang turis menyaksikan adegan itu.
bawah pohon beringin, seorang turis menyaksikan adegan itu.
Sebenarnya tak jelas benar, apakah dia turis atau mata-mata. Semua orang
tak peduli, hanyut dalam emosi Cindar.
tak peduli, hanyut dalam emosi Cindar.
Tiba-tiba burung gagak berkaok-kaok terbang rendah di alun-
alun itu. Semua terdiam. Sebuah pelor bersarang di jantung Cindar.
Esoknya, semua koran menulis berita: "Seorang tokoh tewas
bunuh diri!" ***
alun itu. Semua terdiam. Sebuah pelor bersarang di jantung Cindar.
Esoknya, semua koran menulis berita: "Seorang tokoh tewas
bunuh diri!" ***
Untuk yang dilumpuhkan, Agustus 1994